Selasa, 19 Juli 2016

ISLAM DI ASIA, EROPA DAN AMERIKA





Timbulnya  persoalan tentang islam di masa depan,  telah mengajak  kita berfikir  kritis dalam menelaah berbagai fenomena saat ini. Seiring dengan perkembangan zaman yang semakin modern, banyak kita temukan akar-akar baru yang dapat menimbulkan kehancuran  islam. Asia, yang dikenal sebagai Negara moyoritas muslim, terlihat tak mampu menyikapi ragamnya  pola hidup yang dapat menjebak islam. Berbagai pengaruh telah berhasil menciptakan umat islam yang semakin lalai menjalankan ajaran agamanya. Terutama pengaruh dari akibat tingkat pendidikan islam yang semakin tertinggal, sehingga banyak dari generasi kita yang terperdaya oleh kemajuan zaman dari berbagai sisi.
 Minimnya pengetahuan mengenai islam dapat menimbulkan mala petaka yang amat besar bagi kemajuan islam. Salah satunya adalah mudahnya bagi mereka untuk meninggalkan hukum islam baik secara sadar maupun tidak. Seperti pesatnya pergaulan bebas yang menimbulkan hal-hal yang tidak di inginkan. Maraknya kasus pemerkosaan dan pembunuhan. Aktivitas narkoba yang tak pernah luput dari kaum remaja hingga usia paruh baya. Dan yang sangat memprihatinkan, para generasi islam telah  meniru pola hidup yahudi yang mulai memudarkan ajaran islam.
Sangat menyedihkan saat kita melihat  wanita islam mulai membiasakan diri layaknya wanita di zaman jahiliah. Tabbaruj salah satunya. Kecantikan telah menjadi jembatan utama untuk meningkatkan nilai perekonomian mereka. Salah satu jalan  penyebaran kemaksiatan itu melalui kecanggihan teknologi yang dimanfaatkan ke arah yang salah. Di berbagai media sosial contohnya, aurat  bahkan telah menjadi tontonan murahan  bagi sekelompok umat.
Fenomena tersebut telah menjadi gambaran umum bagi remaja saat ini. Hilangnya rasa malu sebagai ciri dari umat islam.  Jika budaya ini terus berlanjut, apa jadinya islam di masa yang akan datang?!Hal ini dapat memberikan gambaran kepada kita bahwa umat islam  tidak sepenuhnya  mampu mengendalikan diri dari kemajuan teknologi. Bahkan akibat negatif dari kemajuan  teknologi tidaklah  sedikit kita dapati. Pembunuhan dan berbagai kegiatan jual beli haram lainnya juga terjadi akibat kemajuan  teknologi. Salah satu benda yang mudah didapati adalah Khamar, benda ini  telah menjadi minuman di segenap tempat.
Saat ini, kita juga telah sampai  di zaman dimana para ulama sudah tidak lagi menjadi acuan sebagai tempat bertanya bagi umat islam. Seruan mereka seakan berlalu tanpa ada yang menghiraukan. Orang-orang baik sudah  tidak dikedepankan. Orang-orang benar telah di anggap salah, dan orang-orang salah  telah di anggap benar.  Semakin sulit menegakkan kebenaran dengan kondisi yang demikian.  Islam hanya terpajang tanpa ada rawatan. Contoh lain seperti bangunan masjid.  Sering kita temukan manusia yang sibuk mendirikan masjid dengan kelimut kemewahan yang seakan cukup tak cukup. Masjid hanya dibangun sebagai simbol keislamannya saja. Tak gentar rasanya manusia untuk  mendirikan bangunan masjid sedemikian besar, luas dan mewah, namun tak gentar  juga mereka untuk melupakan dan meninggalkannya. Alquran yang terpajang hanya dijadikan bacaan hafalan sedemikian rupa tanpa meresapi makna dan kandungannya.
Selain itu, kita juga telah memperhatikan  semangat  para umat dalam mengembangkan kemaksiatan diberbagai tempat dan kesempatan.  Para pemimpin yang  sudah buta untuk melihat antara hak dan kewajibannya. Mereka terbuai dengan kursi beralas sutra yang menghasilkan puing-puing  kenikmatan fana. Amanah sudah  menjadi titipan tinja yang tiada harga. Memang, tidak semua dari mereka dapat menjadi pemimpin yang mampu membawa rakyatnya menjadi lebih baik. Mereka dapat diperdaya oleh nafsu dan  kemegahan dunia. Larut dalam berbagai pujian dan merasa dimuliakan. Namun hal ini dapat kita atasi melalu diri kita kembali. Kita sebagai rakyatlah yang memilih mereka,  maka telah menjadi kewajiban kita untuk menegakkan islam yang lebih berkualitas melalui pemimpin yang berkualitas.
Melihat hal semacam ini, rasanya sungguh terlihat bejat para manusia yang tidak menghargai air mata para Rasul dan para Khalifah terdahulu dalam menegakkan islam. Hal ini sungguh bertolakbelakang dengan histori para Rasul  yang rela mengorbankan seluruh jiwa dan raga, harta benda dan keluarga demi menegakkan islam yang  bemartabat dengan umat-umat yang bertaqwa. Banyak sekali fenomena yang  tertuju  terhadap kehancuran  islam. Bisa saja semua itu di katakan  sebagai tanda-tanda akhir zaman yang bayangannya mulai terpapar. Meski  kehadirannya tidak kita ketahui, namun tanda-tandanya telah kita dapati.
Fenomena ini telah memberikan akibat buruk bagi kemajuan islam di masa depan. Terutama di kepualaan Asia. Tidaklah mudah bagi para pendahulu kita  untuk menyalakan semangat juang demi mewujudkan islam yang berperadaban. Namun  apa yang kita berikan  tidaklah sesuai dengan harapan.
Sebagaimana kita sadari, bahwa islam pada dasarnya merupakan agama tauhid yang menyatukan seluruh umat. Tidak ada perbedaan dari umat islam melainkan nilai ketaqwaannya kepada Allah SWT. Melalui  Alquran dan Hadist kita telah mendapatkan penjelasan tentang keutamaan nilai taqwa.  Namun melalui realita yang terjadi pada masa ini, kita dapat melihat umat islam  telah larut dalam perkembangan globalisasi yang mulai memecahbelahkan peradabannya sendiri.
Sebagaimana sejarah mencatat bahwa sebenarnya  islam merupakan agama yang tidak terikat oleh teritorial geografis. Islam adalah agama yang tidak membeda-bedakan suku, watak, karakter, pangkat, jabatan, berbagai jenis materialistis dan berbagai kolonial lainnya. Islam adalah agama pemersatu, yaitu agama yang hanya dipasung oleh Allah dan Rasulnya. Namun kesatuan tersebut kini mulai terpecah belah jika dilihat dari segi tertentu.  Mengapa demikian?  Semua itu tidak terlepas dari banyaknya pengaruh yang timbul akibat munculnya kemajuan teknologi  dan minimnya pengetahuan mengenai islam secara mendalam. Akibatnya,  umat islam tidak mampu membentengi diri untuk menghadapi pengaruh globalisasi. Sehingga  kemajuan teknologi nampaknya tak bisa di jadikan sebagai suatu perkembangan yang lebih mengarah kesudut positif. Namun malah sebaliknya. karena kemajuan teknologi yang di iringi dengan minimnya pengetahuan mengenai islam tersebut dapat dikatakan sebagai salah satu faktor  yang menutup ajaran islam secara perlahan.
            Pandangan mengenai islam tidak bisa kita pastikan berkembang baik jika umat islam sendiri belum mampu menjalankan syari’at agamanya dengan baik. Seperti yang terjadi saat ini, meski tidak semua aspek berpengaruh buruk terhadap perkembangan islam, namun dari aspek tersebutlah kita dapat memperbaikinya sebelum islam mulai terancam hebat dengan berbagai pengaruh lainnya.
Itu gambaran yang terjadi di kepulauan kita. Umat islam  berada di titik yang memprinhatinkan. Namun berbeda halnya jika kita melihat islam di di kepulauan Eropa dan Amerika?Mendengar dua Negara tersebut, kita mungkin langsung terbayang paparan kaum kristiani yang begitu akrab dengannya. Tak salah memang. Namun apakah suatu kemustahilan untuk membayangkan dua Negara tersebut di huni oleh hampir seluruh umat islam? Tentu tidak! Realita hari ini mengisahkan tentang maraknya perkembangan islam di Eropa dan Amerika.
Pada awalnya, kemajuan Eropa yang di akui dunia hingga hari ini tidak terlepas dari perjuangan khalifah islam pada masanya. Namun semua itu kembali direnggut oleh kaum kristiani dengan sengaja mengaburkan histori para pejuang islam di sana. Cerita singkatnya dapat kita jumpai dari buku Geografi Islamoleh Hasan Basri M Nur dan Ahmad Zaki tentang  awal mula islam di Eropa dan Amerika. Sungguh menakjubkan jika kita mengetahui sejarah islam di sana. 

Saat ini, islam merupakan agama yang berkembang pesat di benua Eropa dan Amerika. Peningkatan  umat islam di sebabkan oleh pertumbuhan penduduk, kaum muallaf dan para imigran yang menempatkan diri disana. Kebencian mereka terhadap islam malah membawa mereka begitu mencintai islam.  Hasil dari beberapa wawancara yang dilakukan di beberapa media mengenai motivasi mereka yang masuk islam adalah  mereka menemukan kehidupan yang lebih berarti dan  nilai kebenaran dalam agama islam. Kelimut kemewahan yang mereka peroleh diluar islam tak pernah membuat mereka merasakan ketenangan seperti setelah mengenal islam. Rasa penarasan yang luar biasa tentang islam membuat mereka  ingin tahu sepenuhnya mengenai islam. Hal ini mengajarkan kepada kita bahwa mereka masuk islam setelah benar-benar mendalami dan memaknai keberadaan islam yang sebenarnya. Sehingga, ketika mereka telah masuk islam,mereka tidak semena-semena untuk menjalankan ajaran islam. Ini menjadi suatu pembelajaran bagi umat islam yang telah bergelut dengan islam sejak lahir di muka bumi. Tetapi  malah banyak  yang  terjerat dalam pelanggaran hukum islam itu sendiri.
Banyaknya pengaruh yang mengantarkan perkembangan islam di sana  menumbuhkan semangat para kaula muda untuk mempelajari islam lebih mendalam. Hal ini dilakukan guna menciptakan umat islam yang memiliki komitmen dan mampu membentengi diri terhadap pengaruh yang akan menyudutkan islam. Sehingga melalui merekalah pendekatan-pendekan islam di dunia barat dapat terus berjalan. Hal ini juga akan menimbulkan perkembangan bidang politik islam yang handal sebagai jalan pembentukan pemerintahan islam di sana. Prof. Jane Smith yang telah berhasil menulis buku buku islam di Amerika  merupakan salah satu  gambaran  semangat untuk terus mengembangakan islam di Negara super power tersebut.
        Demikianlah gambaran perkembangan islam di dua dunia barat tersebut. Peristiwa ini dapat mematahkan pemikiran-pemikiran awam yang melihat dua Negara itu sebagai Negara kafir yang jauh dari islam. Nyatanya, umat islam yang ada di Negara tersebut malah memiliki semangat juang  yang jauh berbeda dengan umat islam Asia. Mereka yang baru mengenal islam berupaya sebisa mungkin untuk melanjutkan perkembangan islam di berbagai tempat kesempatan. Harusnya ini dapat menjadi suatu kesadaran bagi kita selaku umat islam di Negara bermayoritas muslim untuk menghidupkan kembali semangat para pendahulu kita.Sehingga sisa-sisa perjuangan mereka dapat terus berkembang guna mewujudkan islam yang berperadaban.